Rabu, 14 November 2012
Minggu, 28 Oktober 2012
Sekilas Tentang MESIN UANG Ical...
Meski
kondisi keuangan perusahaan yang memprihatinkan, Bakrie tak henti-hentinya
melakukan. Bak seorang pendekar yang dikarunia 10 nyawa, dengan beban utang
yang tinggi, Bakrie tetap dipercaya diberi pinjaman oleh institusi keuangan
global.
Bak seorang pendekar yang dikarunia
10 nyawa, dengan beban utang yang tinggi, Bakrie tetap dipercaya diberi
pinjaman oleh institusi keuangan global
Selain rencana membangun kawasan industri Trans Kalimantan
Economic Zone senilai Rp10 triliun, yang terbaru Bakrie akan membangun
megaproyek pipanisasi gas Kalimantan-Jawa (Kalija) sepanjang 1.200 kilometer
(km).
Untuk tahap pertama, grup Bakrie akan memulai pembangunan proyek
pipa transmisi gas ruas Kepodang-Tambaklorok sepanjang 200 km pada tahun ini.
Pemilik grup Bakrie Nirwan Darmawan Bakrie belum lama ini berjanji, pembangunan
pipa transmisi gas ruas Kepodang-Tambaklorok ditargetkan rampung 2014.
Sebagai gambaran, ruas pipa bawah laut Kepodang-Tambaklorok akan
menghubungkan lapangan gas Kepodang yang dikelola kontraktor Petronas Carigali,
di lepas pantai Semenanjung Muria, Jawa Tengah, ke PLTU Tambaklorok, di
Semarang.
Empat tahun lalu (2008) Petronas Carigali meneken perjanjian jual
beli gas dengan PLN. Dalam kesepakatan tersebut, selain memasok gas, Petronas
juga sekalian membangun jaringan pipanya. Namun setahun kemudian, Bakrie
mengusulkan kepada pemerintah agar Kepodang-Tambaklorok dimasukkan sebagai
megaproyek
Tahun 2010 pemerintah menyetujui usulan ini, sehingga rancangan
proyek Kepodang-Tambaklorok musti diubah. Akibatnya, pasokan gas ke Tambaklorok
yang sedianya bisa dimulai sejak 2011 lalu, molor menjadi tahun 2014.
Sebagai kompensasi, pemerintah harus memperpanjang kontrak kerja
sama Blok Muriah (tempat Lapangan Kepodang) dengan Petronas Carigali, selama
tiga tahun. Semula KKS Muriah seharusnya habis pada 2021, namun diperpanjang
sampai 2024
Kepastian pembangunan Kepodang-Tambaklorok agaknya berkaitan
dengan kunjungan Nirwan yang didampingi Dirut Energi Mega Persada Imam
Agustino, ke kantor Menteri ESDM Jero Wacik, Jumat (22/06) lalu. Kala itu
Nirwan enggan berkomentar. "Tanya soal bola saja," katanya.
Dengan kondisi keuangan yang memprihatinkan, aksi korporasi
terbaru ini patut dipertanyakan. Mesin uang keluarga Bakrie melalui PT Bakrie
& Brothers Tbk (BNBR) sepertinya tidak akan bersinar seperti tahun-tahun
sebelumnya. Pemicunya, sejumlah anak usaha yang menjadi soko guru perusahaan
Bakrie diperkirakan kinerjanya melempem dengan sejumlah permasalahan.
Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo mengatakan,
sejumlah aksi korporasi yang dlakukan grup Bakrie belum memberikan keuntungan
riil, khususnya kepada para pemegang saham. Meski dalam setiap aksi korporasi
merinci seluruh potensi keuntungan, namun keuntungan itu belum dipegang
perusahaan.
"Langkah-langkah yang dilakukan perusahaan milik grup Bakrie
dilakukan seolah-olah hanya untuk terlihat melakukan aksi korporasi di mata
investor," kata Satrio kepada Beritasatu.com, hari ini.
Di kalangan pasar modal, Bakrie dikenal sebagai perusahaan gali
lubang tutup lubang. Seluruh aksi korporasinya selalu dibiayai utang. Lalu
bagaimana kondisi utang perusahaan Bakrie. Berdasarkan data yang dihimpun
Beritasatu.com, meredupnya mesin penggerak BNBR disebabkan sejumlah faktor.
Selain kepemilikan di Bakrieland Development Tbk (ELTY) dan PT
Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) tergerus, PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
sebagai soko guru PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tengah dilillit
persoaalan utang dan melemahnya harga batu bara.
Laporan keuangan BNBR audit 2011 menyebutkan, total utang
perseroan mencapai Rp5,4 triliun. Dari total utang itu, sebesar Rp295 miliar
jatuh tempo tahun ini yang berasal dari transaksi repo. Selain itu, perusahaan
investasi juga harus melunasi utang US$437 juta (Rp4,3 triliun) dari 20
kreditur internasional yang digalang Credit Suisse, menyusul harga saham Bumi
Plc turun dari yang disepakati.
Penurunan tersebut memicu margin call yang mengharuskan Bakrie
melakukan top up dengan menambah US$100 juta. Bakrie Brothers dan Long Haul
Holding menjaminkan 47,6 persen saham Bumi Plc milik grup Bakrie untuk
memperoleh pinjaman itu.
Lalu apa lagi utang jangka pendek perusahaan Bakrie yang jatuh
tempo di 2012? PT Bumi Resources Tbk (BUMI) salah satu perusahaan dengan jumlah
utang yang cukup mengerikan. Mengutip laporan keuangan BUMI 2011, utang
produsen batu bara yang jatuh tempo pada tahun ini mencapai US$638 juta (Rp6,38
triliun).
Di tahun 2013 sebesar US$1,1 miliar, 2014 sebesar US$635 juta,
2015 sebesar US$313 juta, 2016 sebesar US$450 juta dan di 2017 sebesar US$700
juta. Jika disederhanakan, hingga 2014 BUMI harus melunasi utang jatuh tempo
sebesar US$3 miliar (Rp30 triliun).
Analis BNI Securities Viviet S. Putri mengungkapkan, aksi
korporasi yang dilakukan kelompok usaha grup Bakrie akan terbebani utang. Beban
itu tidak hanya kepada entitas usahanya, namun juga pada entitas lain dalam
kelompok perusahaan Bakrie. "Jadi pendapatan dan labanya dikonversi untuk
membayar utang,” kata dia kepada Beritasatu.com.
Selain dililit utang, kondisi BUMI diperburuk dengan terus
menurunnya harga batu bara di tengah perlambatan ekonomi global yang turut
mengurangi pernintaan batu bara dari China dan India sebagai motor penggerak
ekonomi. Kondisi ini tentu tidak diinginkan BUMI sebagai eksportir batu bara
kedua terbesar di dunia.
Apalagi produksi batu bara BUMI berupa cooking coal sangat
sensitif terhadap krisis. Pasalnya, cooking coal banyak digunakan untuk
industri pengolahan baja. Di tengah kondisi krisis seperti sekarang, praktis
industri baja akan tertekan.
Dampak lebih lanjut, pendapatan Bakrie melalui perusahaan batu
baranya akan tergerus. Sumber lain menyebutkan, tren pelemahan harga batu bara
ini akan berlanjut hingga ke depan menyusul ditemukannya sumber energi baru di
Amerika Serikat (AS) yang bisa menggantikan batu bara di masa mendatang.
Padahal kepemilikan keluarga Bakrie di BUMI paling besar dibanding
perusahaan lain. Mengacu data Horizon Research, per Desember 2011, kepemilikan
BNBR di BUMI mencapai 29,8 persen. Mengacu laporan keuangan 2011, BUMI
memperoleh pendapatan US$4 miliar (Rp40 triliun), laba usaha US$1,12 miliar dan
laba bersih US$221 juta. Dengan porsi kepemilikan tersebut, maka sumbangan
pendapatan BUMI kepada BNBR mencapai US$1,17 miliar. Sementara laba usaha dan
laba bersih menyumbang masing-masing US$330 juta dan US$60 juta.
Sementara motor uang grup Bakrie yang lain seperti ELTY atau UNSP
sudah tidak bisa diharapkan. Di ELTY, kepemilikan grup Bakrie sudah tidak
mayoritas paska masuknya Limitless Limitless World International Services Ltd.
Lagi-lagi, penjualan sebagian saham Bakrie ke perusahaan investasi asal Qatar
ini karena kesulitan likuiditas. Kini, saham Bakrie di perusahaan properti itu
hanya tersisa 8 persen.
Adapun di sektor karet dan CPO, grup Bakrie tidak bisa bertumpu
hanya pada UNSP menyusul tanaman yang menghasilkan terus menurun. Di sisi lain
tanaman yang tidak menghasilkan justru meningkat. Jika saja performanya
kinclong, mungkin bisa membantu mengingat porsi keluarga Bakrie di UNSP
mencapai 27,42 persen atau menempati urutan kedua setelah BUMI.
Data Horizon Research juga menyebutkan, per Desember 2011, UNSP
mencatat pendapatan Rp4,367 triliun dengan mengacu porsi kepemilikan di atas,
maka kontribusi perusahaan sawit ini ke BNBR mencapai Rp1,197 triliun.
Sementara laba operasional tercatat Rp1,219 triliun dengan kontribusi Rp334
miliar. Adapun laba bersih Rp744 miliar dengan menyumbang Rp204 miliar.
Dengan kondisi keuangan yang berdarah-darah akibat melambungnya
utang dan melemahnya harga batu bara, maka kinerja perusahaan grup Bakrie tahun
ini akan semakin tergopoh-gopoh. Apalagi di 2013 dan 2014 dimana beban utang
untuk BUMI saja, sudah Rp30 triliun. Sementara pendapatannya jauh tidak
menutupi beban yang ditanggung.
Namun bukan Bakrie jika tak mampu lolos dari kondisi tersebut.
Sumber Beritasatu.com menyebutkan, grup Bakrie tengah menjajaki investor global
untuk mencari dana segar senilai US$1 miliar (Rp10 triliun). Nantinya, dana
tersebut digunakan untuk melunasi utang ke Credit Suisse senilai US$437 juta
dan investasi di sejumlah anak usaha Bakrie & Brothers yakni PT Bakrieland
Development Tbk (ELTY), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Bakrie
Telecom Tbk (BTEL).
Sumber juga mengungkapkan, jika skema ini gagal grup Bakrie
terpaksa akan menjual kepemilikannya di sejumlah perusahaan afiliasinya yakni
Delta Dunia Makmur, Benakat Petroleum Energy, Energi Mega, Berau Coal Energy,
Bumi Plc atau Bakrie & Brothers itu sendiri.
Mesin uang Bakrie & Brothers ditopang sejumlah anak usaha:
Kepemilikan BNBR melalui Bumi Plc di BUMI mencapai 29,8 persen
Di 2011 pendapatan BUMI tercatat US$4 miliar (Rp40 triliun).
Mengacu porsi di atas kontribusi BUMI ke BNBR 29,8 persen setara dengan US$1,17
miliar Laba operasional US$1,12 miliar berkontribusi US$330 juta. Laba bersih
US$221 juta berkontribusi US$60 juta
Kepemilikan BNBR di UNSP mencapai 27,4 persen
Di 2011 pendapatan UNSP Rp4,367 triliun. Mengacu porsi di atas,
kontribusi UNSP ke BNBR kontribusi ke BNBR 27,42 persen setara dengan Rp1,197
triliun. Laba operasional Rp1,219 triliun berkontribusi Rp334 miliar. Laba
bersih Rp744 miliar berkontribusi Rp204 miliar
Kepemilikan BNBR di ENRG mencapai 8,75 persen
Di 2011 pendapatan Rp2,122 triliun.Mengacu porsi di atas,
kontribusi ENRG ke BNBR 8,75 persen setara dengan Rp185 miliar. Laba
operasional Rp778 miliar berkontribusi Rp68 miliar. Laba bersih Rp68 miliar
berkontribusi Rp6 miliar
Kepemilikan BNBR di ELTY mencapai 8,14 persen
Di 2011 pendapatan Rp2,013 triliun. Mengacu porsi di atas,
kontribusi ELTY ke BNBR seebsar 8,14 persen setara dengan Rp163 miliar. Laba
operasional Rp232 miliar berkontribusi Rp18,95 miliar. Laba bersih merugi (Rp19
miliar) berkontribusi merugi (Rp1,56 miliar)
Kepemilikan BNBR di BTEL mencapai 22,00 persen
Di 2011, pendapatan Rp2,591 triliun. Mengacu porsi di atas,
kontribusi BTEL ke BNBR 22,00 persen setara dengan Rp569 miliar.Laba
operasional merugi (Rp174 milar) berkontribusi merugi (Rp38,28 miliar). Laba
bersih merugi (Rp782 M) berkontribusi merugi (Rp172 miliar)
Di luar lima perusahaan terbuka, masih ada tiga perusahaan di
sektor logam, Bakrie Metal Industries dengan kepemilikan 99,99 persen, sektor
infrastruktur, Bakrie Indo Infrastruktur (99,5 persen) dan sektor energi,
Bakrie Energy (100 persen)
Sumber: Horizon Research
Daftar utang kelompok perusahaan grup Bakrie bersama afiliasinya
yang jatuh tempo tahun 2012:
1. Bakrie & Brothers mencapai Rp5,4 triliun
2. Bumi Resources US$638 juta (Rp6,38 triliun)
3. Bakrieland Development Rp17,707 triliun
4. Energi Mega Persada Rp11,215 triliun
5 Bakrie Sumatera Plantations Rp9,644 triliun
6. Bakrie Telecom Rp7,844 triliun
7. Bumi Resources Minerals Rp3,338 triliun
8. Berau Coal Energy Rp1,535 triliun
9.Visi Media Asia Rp822,276 miliar
10. Darma Henwa Rp406,165 miliar
Sumber: Laporan keuangan yang diolah Beritasatu.com
Rabu, 24 Oktober 2012
Minggu, 21 Oktober 2012
Lapindo Wajib Bayar Ganti Rugi Korban
Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta agar pembayaran ganti rugi korban lumpur yang menjadi tanggung jawab PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) harus tuntas tahun ini.
Pernyataan itu dilontarkan gubernur karena hingga saat ini pembayaran ganti rugi oleh perusahaan Aburizal Bakrie belum lunas keseluruhan.
“Pembayaran ganti rugi Lapindo belum lunas. Rumusannya tidak ada lagi ya memang harus dibayar,” ujar pria yang kerap disapa Pakde Karwo ditemui usai peringatan hari jadi Provinsi Jawa Timur di Gedung Grahadi, Surabaya, Jumat (12/10/2012).
Soekarwo menyebut, persoalan ini tidak semata-mata harus dilemparkan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Kata Soekarwo, letak Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur, sehingga Pemprov Jatim berhak untuk mendorong agar segera di lunasi oleh PT MLJ selaku juru bayar PT Lapindo Brantas Inc.
“Kita terus mendorong agar dibayar, dan tahun ini harus tuntas sesuai dengan janji Lapindo,” katanya.
Dia juga mengaku tidak bisa memberikan deadline kepada pihak Lapindo. “Tidak ada deadline. Sementara ini (pihak Lapindo) mengaku masih sanggup melunasi,” tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, korban lumpur Lapindo menyita aset Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). Secara bergantian perwakilan warga korban lumpur Lapindo yang terdampak langsung lumpur di Porong, Sidoarjo menjaga pos pintu masuk titik tanggul 25, bekas Desa Jatirejo.
Warga kesal karena angsuran ganti rugi korban lumpur dihentikan tanpa alasan yang jelas. Warga pun menuntut Lapindo segera menyelesaikan sisa ganti rugi korban lumpur yang macet sejak 3-4 bulan belakangan.
Langganan:
Postingan (Atom)


